I wish
Jika kita mempunyai 10 keinginan, dan tak kesepuluhnya terwujud, maka itu adalah suatu kewajaran. Becoz, man desire, God decide. Sunatullah...
Mensyukuri setiap ni'mat itu akan lebih melegakan...
| Sun | Mon | Tue | Wed | Thu | Fri | Sat |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | 3 | ||||
| 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 |
| 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 |
| 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 |
| 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 |
Jika kita mempunyai 10 keinginan, dan tak kesepuluhnya terwujud, maka itu adalah suatu kewajaran. Becoz, man desire, God decide. Sunatullah...
Mensyukuri setiap ni'mat itu akan lebih melegakan...
Kemaren adalah hari yang menyenangkan. Walau lelah, walau ada setitik ruang di hati yang sedih, tapi tetap bisa dikatakan menyenangkan. Sore itu, seperti biasa, aku pulang dari kantor sekitar 1?2 5 sore. Sebenarnya pengen pulang jam 1/2 4, karena ada forum yang musti dihadiri. Tapi kuurungkan niat itu, karena tak satupun orang kantor yang beranjak pulang, Uugh..benar2 orang2 gila kerja.
Hari itu aku berada di kantor selatan, jadi cukup memakan waktu untuk mencapai tujuan, jika dibanding ketika berada di kantor pusat yang hanya butuh waktu sekitar 30 detik, apalagi naik motor.
Sampai di tujuan, sebenarnya forum sudah dimulai, aku sudah ijin telat karena musti kerja dulu. Forum seperti inilah yang aku rindukan. Bertemu dengan teman2 yang bervisi sama, memiliki cita2 mulia, yang meluangkan waktunya untuk memikirkan orang lain. Forum ini baru terbentuk sekitar hampir 2 bulan pasca gempa. Sebenarnya ini hanyalah forum sharing, berbagi tips, berbagi pengalaman, bahkan sering apa yang disampaikan berulang. But, dat's not de point. Sungguh, jika mau dihitung, ilmu yang diterima tak sebanding dengan bensin yang dikeluarkan ataupun lelah yang tak terbayar. Tapi disinilah uniknya forum ini, bahkan Rosulullah pun menyuruh kita untuk memperbanyak forum2 semacam ini, karena banyak kebaikan yang bisa didapat. Malaikat pun akan menaungi orang2 yang berada di dalamnya, baik yang sungguh2 maupun yang hanya sekedar mampir. Subhanallah....
Apa pasal...? Karena ada spirit yang bisa dibawa pulang, ada senyum yang menghias, itulah silaturahim. Dat's da point!! Rindu dengan teman-teman yang terobati...Bertemu kembali dengan vita, yang setelah kerja ga pernah lagi ketemu (maafkan aku meninggalkanmu ya vit...ato malah aku yang ditinggalkan ya... =] ), dengan liza yang kalem and jaim, runi yang rame...trus juga temen2 yang lain...dan tentu saja Mr fatan fantastik, yang sepertinya punya stok semangat yang ga pernah habis! Salut de..!
To be continued....
Tsukareta...
Kimi ni aitakute
dare yori mo aitakute..
Berharap lelah ini berubah menjadi kekuatan
untuk semakin berbaik sangka
mengharap yang terbaik
ah...tabun..hijou ni benkyoo surun da yoo.
tokuni wa yokusei koto..
reality and fantasy, sometimes not appropriate
ummei to yokubou wo namiutsu umi ni sasageta
[I gave destiny and desire to the sea of crashing waves]
irie ni ukabu honoo mitai ni.......
[like flames floating in the bay]
shinjitsu to gensou to kono me ni utsuru subete wo
[reality and fantasy, everything that reflects in my eyes]
Berpikir idealis, pastilah ingin yang terbaik. Kalau terbaik dari segi apa yang bisa dilihat manusia....ah...sepertinya terlalu muluk. Lalu terbaik menurut siapa ? Tentu disandarkan pada Allah, jika Ia mengatakan ini yang terbaik, entah seburuk apapun itu, maka yakinlah bahwa ini yang terbaik yang dikirim Allah... (tentunya ada standar yang berlaku)
hizumu zanzou toke te nagareteiku
[distorted, blended, dissolved, flow away]
egaku kiseki wa sora wo tsuranuiteiku!
[follow the path that penetrates the sky
Without ending]
Untuk seorang mujahidah dakwah, maka fase ini mungkin adalah fase terberat. Adalah fase bertemunya dua buah kekuatan untuk bersatu, berpadu, menjadi kekuatan baru bagi dakwah ini, bagi umat. Tapi realitas, seringkali tak seindah bayangan. Apa yang datang tak seidelis yang didambakan. Terkadang ada kebaikan-kebaikan besar yang tak nampak dalam penglihatan mata akal kita. Dan Allah Yang Maha Bijaksana yang mengatur itu semua. Maka cobalah lihat bagaimana Ummu Sulaim meminta keislaman Abu Tholhah sebagai maharnya. Ada proses memberi dan menerima disana, proses untuk mau belajar, dan semangat tak kenal lelah untuk semakin mendekati Rabnya. Ada ladang amal shalih yang ditawarkan...
koboreru mirai mabushii kurai sosogu...
[the future that spills, poured until bright ]
Jika kita hanya berharap untuk senantiasa menerima, tanpa usaha untuk memberi lebih banyak, niscaya kita akan merasa lelah. Sangat lelah...
chisai mama nara kitto ima demo mieta ka na
[If it's so small, I wonder if I can see it even now?]
Diambil dari blog tetangga. Moga bisa bermanfaat..Menjadi pelajaran bagi calon-calon pencetak generasi unggul.
AKU INGIN ANAK LELAKIKU MENIRUMU
Oleh Neno Warisman
Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya,
Lalu kubilang pada ayahnya: "Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!"
Suamiku menjawab: "Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku."
Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.
Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al Quran di rumah
Lalu kubilang pada suamiku: "Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah."
Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: "Oh ya. Ide bagus itu."
Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya.
Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua:
Ammaa. Apppaa.
Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad.Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.
Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.
Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya.
Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan.
Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima.
Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah.
Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.
Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu.
Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu:
"Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!"
Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu.
"Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!"
Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku.
Ada yang mencemaskan aku.
Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu.
Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu.
Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia.
Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, "Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!"
Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.
Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana.
Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi.
Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu.
Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini. Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya.
Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya:
"Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat?
Kau tolak ia merangkak di punggungmu!
Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali.
Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi?
Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!"
Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam.
Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi.
Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka
Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan Engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, "Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?"
Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam.
Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?
Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad.
Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang
didamba.
Dada Ahmad berguncang menerima belaian.
Kukatakan di hadapan mereka berdua, "Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada
perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.
Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka.
Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya.
Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai.
Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang: "Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang."
Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan.
Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku. Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu.
Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata:
Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!
Amin, alhamdulillah
Di sudut jalan itu, seorang polisi menggandeng tangannya
mencoba menuntun, menunjukkan jalan yang harus ditempuhnya
Wajahnya belum tua, mungkin terpaut 5-7 tahun denganku.
Ia memakai baju koko, mungkin akan pergi ke masjid,
karena sebentar lagi memang waktunya berbuka.
Wajahnya cerah, ia memegang tongkat di tangan kanannya
Mencoba tetap berada pada jalur pedestrian, dengan menggerakkan tongkatnya ke kanan dan ke kiri.
Lampu hijau menyala, aku langsung manancap gas
Sambil memikirkan apa yang baru ditangkap oleh indra visualku
Lirih kusebut namaMu
Begitu besar nikmatMu yang hadir pada diri ini
Begitu kecilnya rasa syukurku
Begitu seringnya aku mengeluh
Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Ayat itu terngiang-ngiang di telingaku......
'remembering the last ramadhan...ahh...miz u ramadhan....'
Karena tak ada manusia yang benar-benar sempurna......
Maka...sungguh tak pernah bermimpi untuk memperoleh kesempurnaan, karena diri ini bukanlah seorang dengan idealisme tinggi. Masih banyak kekurangan yang melekat, hingga hanya mengharapkan potongan puzzle yang tepat, yang presisi, secara utuh dan penuh menutup setengah puzzle ku.
Maka...berusahalah untuk menjadi potongan puzzle itu...!!! Jangan lagi menggantung awan kelabu itu. Ubah kelam jadi gemintang!! As soon as possible...
Hari ini seorang perempuan menutup usia duatiganya. Mencoba untuk membuka hati dan pikiran agar lebih memaknai hari-hari yang telah lewat dan menyongsong hari-hari depan.....
Apa yang telah dia punya hari ini??
Nikmat keimanan yang telah diberikan Rabbnya. Walau masih tipis dan terkadang melemah, tapi ini adalah nikmat terbaik yang dimilikinya, yang tak tergantikan oleh apapun. Semoga Ia selalu mengkaruniakan kepada perempuan ini nikmat Islam dan keimanan yang selalu bertambah kuat, bertambah kokoh seiring dengan bertambahnya usia. Selalu memberikan kesempatan dan kemantapan jiwa untuk terus berjuang bersama dien ini hingga akhir nafasnya.
Cinta yang dianugerahkan Sang Pemilik Cinta, pada tiap makhluknya. Setiap hari, atas setiap cinta dari bidadari-bidari yang dikirimNya untuk membantunya, mengatasi setiap permasalahan, mengurai satu demi satu benang kusut kehidupan. Semoga akan selalu tumbuh subur di hatinya dan hati bidadari-bidadari itu.
Cukuplah dua hal ini menjadi nikmat terbesar dalam hidupnya, memperkokoh sayapnya untuk terus terbang menembus langit. Rasa syukur yang tak terhingga, yang tak putus-putusnys atas setiap nikmat yang telah diecap.
fabiayyi 'alaairabbikumatukadzibaan..... maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan..
Apa keinginanmu kali ini perempuan?
Rabbi....mohon karuniakan hamba sisa usia yang berkah, yang manfaat. Berikan hamba nikmat untuk beribadah, nikmat belajar dari fakultas kehidupan ini, nikmat untuk berjuang di jalanMu, nikmat sehat lahir dan batin, nikmat untuk bekerja, nikmat rezki yang barokah yang dapat digunakan untuk berjuang di jalanMu, nikmat untuk selalu tegar meniti jalanMu, nikmat pendamping dan anak-anak yang sholeh, nikmat....
Rabbi...berikan kekuatan iman, keteguhan akidah, kemantapan jiwa, kehalusan, kelembutan, kematangan, dan kedewasaan atas makhluk ini. Mampukan diri ini untuk memenuhi perjanjian suci, bahwa hidup, mati, dan ibadahku hanya untukMu.......
Amien.....
Pernah merasa terjebak? Apakah menyenangkan? Tentu tidak!!
Terjebak dalam sebuah situasi dimana dirimu pun sulit untuk melepaskannya. Uughgh....benar -benar tidak mengenakkan!Apalagi ketika situasi itu berubah menjadi rutinitas. Ingin keluar...ingin melepaskan diri dari perangkap itu....tapi sulit. Tahu caranya....tapi sulit, tahu triknya...tapi sulit, dan tahu pula akibatnya bila berlama-lama dalam perangkap...pasti akan sakit...sakit sekali!!
Ingin keluar....Ughgh!!=3$#@!+* >,<
Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya: "Ibu, mengapa Ibu menangis?". Ibunya menjawab, "Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak". "Aku tak mengerti" kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti....".
Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?". Sang ayah menjawab, " Anakku, jika seorang Perempuan yang penuh perasaan memang akan demikian ". Hanya itu jawaban yangbisa diberikan ayahnya.
Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis. Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan. "Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?" Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,
* "Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukupnyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.
* Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan,dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkalipula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.
* Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.
* Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.
* Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang,untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya,melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembutolehnya.
* Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?
* Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepadasuami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.
* Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya.Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan".